Abu Nawas dan Ujian Tiga Pertanyaan

Surabaya, Juni 2026 | [ Kisah Abu Nawas ]

Utusan dari Negeri Jauh

Suatu hari, Khalifah Harun Ar-Rasyid menerima surat dari raja negeri seberang. Surat itu berisi tiga pertanyaan sulit yang harus dijawab oleh para ulama Baghdad. Jika tidak bisa menjawab, Baghdad harus membayar upeti.


Raja itu menulis:

Pertanyaan Pertama: "Manakah yang lebih dahulu ada, ayam atau telur?"

Pertanyaan Kedua: "Berapakah jumlah air di lautan?"

Pertanyaan Ketiga: "Apakah yang memisahkan antara langit dan bumi?"

Para ulama dan ilmuwan berkumpul di istana. Mereka berdiskusi berhari-hari tapi tidak menemukan jawaban yang memuaskan. Khalifah pun cemas.

"Ambilkan Abu Nawas!" perintah Khalifah kepada pengawalnya.

Beberapa saat kemudian, Abu Nawas datang dengan pakaian sederhana dan wajah tenang. "Ada apa Yang Mulia memanggil hamba?"

Khalifah menjelaskan situasi dan menunjukkan tiga pertanyaan itu. Abu Nawas membaca dengan seksama, lalu tersenyum.

"Hanya itu pertanyaannya? Mudah sekali," kata Abu Nawas santai.

Para ulama terkejut. "Mudah? Ini pertanyaan yang sangat filosofis!" protes seorang ilmuwan.

Abu Nawas tertawa. "Justru karena terlalu filosofis, jawabannya menjadi rumit. Mari kita jawab dengan sederhana."

Jawaban Abu awas

Abu Nawas mengambil kertas dan pena, lalu menulis jawaban:

Jawaban Pertama: "Yang lebih dahulu ada adalah niat. Karena tanpa niat, ayam tidak akan bertelur, dan telur tidak akan menetas. Niat adalah awal dari segala sesuatu."

Jawaban Kedua: "Jumlah air di lautan adalah satu tetes. Karena lautan terdiri dari banyak tetesan air. Satu tetes dikalikan tak terhingga menjadi lautan."

Jawaban Ketiga: "Yang memisahkan langit dan bumi adalah jarak pandang. Karena sejauh mana pun kita melihat, kita tidak akan pernah bisa menyentuh langit. Tapi dengan doa dan usaha, jarak itu bisa ditempuh."

Khalifah dan para ulama tercengang. Jawaban itu sederhana tapi sangat dalam maknanya.

"Tulis jawaban ini dalam surat balasan," perintah Khalifah senang.

Beberapa minggu kemudian, utusan dari raja negeri seberang datang kembali. Wajahnya takjub.

"Raja kami mengakui kekalahan," kata utusan itu. "Jawaban-jawaban itu sangat bijaksana. Tidak ada yang bisa membantahnya. Baghdad tidak perlu membayar upeti."

Orang-orang bersorak gembira. Abu Nawas tersenyum malu-malu. "Aku hanya mengatakan kebenaran dengan cara yang sederhana," katanya.

Hikmah:

  • Masalah yang rumit bisa diselesaikan dengan pemikiran yang sederhana
  • Kebijaksanaan lebih berharga daripada pengetahuan yang rumit
  • Jangan pernah meremehkan cara berpikir yang berbeda

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Abu Nawas dan Ujian Tiga Pertanyaan"

Posting Komentar